Thursday, 11 February 2016

Reog Cahaya Budaya Road To Bali

Penulis: Ebin

Kesempatan ke pulau Bali seolah sudah tertutup, karena sewaktu SMP dan SMA rekreasi saya selalu ke Jogja. Padahal kesempatan terbesar jika ingin kesana hanya saat duduk dibangku SMP atau SMA. Study tour tentunya. Tapi hingga lulus SMA saya masih terlalu sering melihat Bali hanya di FTV. Tak apalah mungkin dengan melihat di TV akan mengurangi keinginan saya. 
            Entah mimpi apa malam itu, Senin tanggal 18 januari 2015 ketua reyog Cahaya budaya (mas Pris) mendapat kabar dari mas Fahmi bahwa akan digelar pentas reyog di Denpasar, dan membutuhkan penari bujangganong dua serta penari klono untuk bermain di Bali. Dengan ini mas Pris menunjuk Fajar dan Haris. Akan tetapi Haris nggak bisa ikut karena ada kepentingan pribadi, dan akhirnya diganti dengan Fonky. Meskipun bukan penari, saya kebagian jadi pengendang dan akhirnya bisa ikut ke Bali , yeyeeeee.
Dirasa persiapan sudah cukup, satu hari menjelang keberangkatan kami memilih bus Gunung Harta sebagi partner ke Denpasar. Kita berangkat ke Denpasar sekitar pukul 1.30 Kami menunggu bus Gunung Harta di halte Ngunut. Singkat cerita. Sesampai di Malang bus yang kami naiki berhenti untuk istirahat di pos peristirahatan Gunung Harta.



Selama ini saya hanya sebatas mendengar nama paiton. Banyak orang yang bilang bahwa Paiton jika malam hari bagaikan lautan lampu. Benar saja ketika bus yang kami naiki melawati sebuah jalan yang agak meninggi. Seketika itu saya melihat banyak hamparan lampu dari dalam bus. Saya kagum melihatnya, ribuan lampu kuning yang jumlahnya ribuan memanjakan mata kami. Ternyata Itulah Paiton. Setelah beberapa jam kemudian sayapun tertidur pulas. 
Satu jam sudah kita sudah berada dikapal berarti kami segera menginjakkan kaki di pulau dewata tersebut. akhirnya kami sampai ke Pulau Bali, iya Bali yang selama ini hanya mimpi. yeeee.... telah sampai di pelabuhan gilimanuk pukul 4.00 WITA. Bus pun bersiap untuk keluar dari kapal, akan tetapi sebelum meninggalkan pelabuhan ada pemeriksaan dari petugas keamanan pelabuhan untuk memastikan keamanan sebelum masuk ke Bali. 
Begitu sampai terminal Ubung, sambil menunggu mas Fahmi kami sempatkan ngopi sebentar. Hingga jemputanpun datang. Oke, kami siap melanjutkan perjalanan ke kost mas Fahmi untuk beristirahat, karena di sore hari kami harus latihan bersama.
Sorenya Seusai latihan kami diajak mas kemek jalan jalan melihat kota Denpasar. Kami bersiap siap untuk menikmati malam minggu di Bali. Ternyata suasana disana ramai, banyak wisatawan lokal maupun asing. Mengingat keesokan harinya kami akan pentas reyog ponorogo, dan masih banyak agenda lain,mak kami memutuskan untuk segera mengistirahatkan diri.

Keesokan harinya kamipun bangun tidur lalu bergegas untuk mandi karena akan pergi ke Monumen bajra sandhi Renon melihat car free day. Sesampai disana saya melihat banyak orang yang sedang berkegiatan. Mulai dari jogging, senam, berfoto, sepakbola, basket hingga orang berpacaran sedang bergandengan tangan. Ah..saya jadi iri saja melihatnya. Setelah cukup puas berkeliling, kami melanjutkan perjalanan ke Kontrakan mas Jojo, salah satu kawan dari mas Pris dan mas Fahmi.
Sesampai disalah satu Perumnas tempat mas Jojo tinggal, kami berbincang-bincang sambil sarapan tentunya. Begitu sarapan selesai dan sak udutan, perjalananpun berlanjut, Nusa dua, sip, kali ini tambah mas Jojo dan istrinya. Tak terasa kami pun tiba di Nusa dua. Sempat kebingungan ketika akan menuju kepantai dan bertanya kepada petugas keamanan. Mondar mandir, bolak balik kok gak ketemu ya..dalam hati wong yang rumahnya Bali aja bingung apa lagi fajar. Istri mas jojo tak sengaja membaca tulisan Nusa dua beach (menunjukkan arah). Kami akhirnya sampai dipantai. Waktu akan turun dari mobil sendal saya Nyantol pintu mobil yang membuatnya putus. Terpaksa Nyeker.g papa toh nyeker gak dilarang dan show must go on, melihat lihat indahnya pantai Nusa dua Bali yang sebelumnya hanya bisa lihat di Tv. Memang keren Bali ini. 

Sebenarnya dimanapun tempatnya yang namanya pantai ya begitu saja. Tulungagung punya kok pantai semacam Nusa Dua, Pantai Sanggar mungkin. Tapi bukan Bali namanya jika obyek wisatanya nggak dikelola dengan baik. Memang Bali gak ada matinya. Setelah kami capek menyusuri sepanjang pantai akhirnya istirahat dibawah pohon. Ketika berada dibawah pohon yang rimbun mas jojo, mas pris,mas kemek bercerita ketika semasa kuliah dulu. Semacam romantisme masa lalu. Dirasa campeknya hilang kami melanjutkan perjalanan menuju water blow. Mas kemek bilang mater blow ini adalah ombak laut yang menghantam karang lalu muncrat keatas. Namun sayang pada saat saya berada disana nggak sekalipun melihatnya. Mungkin ombaknya lagi malu. Yaa sudahlah kemudian hanya bisa berfoto foto saja.Tak terasa waktu semakin siang. Kami harus segera pulang mengingat sorenya saya, fonky, fajar, mas kemek dan mas pris akan tampil reyog ponorogo di taman kota Denpasar.
Sebelum menuju tempat pertunjukan, mas Jojo mengajak untuk makan siang. Kami telah sampai salah satu dirumah makan di Denpasar. Istri mas jojo lalu memesan menu hidangan siang itu. Sebelum pulang ke kost terlebih dahulu menghantarkan mas jojo pulang kerumahnya. kami munuju kost. Tanpa istirahat saya, fajar, fonky disuruh mas pris untuk langsung membereskan tempat tidur dan berkemas kemas mengingat malam ini kita pulang. Dengan agak tergesa gesa kami langsung menuju ke Taman kota Denpasar. Sesampai disana ternyata masih sepi hanya ada beberapa orang yang mengenakan kaos reyog.

Selang beberapa menit peralatan reyog datang disusul para pemainnya. Dirasa persiapan sudah selesai, pementasanpun dimulai. Diawali dengan tari dadak merak, disusul penari jathil obyok lalu tari warok kemudian tari bujangganong. Penampilan fajar dan fonky sebagai penari bujangganong. Sebelum berangkat ke Bali kami berempat sudah mempersiapkan konsep untuk pementasan tersebut. Dengan mengosep mereka sebagai lawak. Konsep yang dibawakan adalah menjadikan fajar sebagai anak yang lucu, menggemaskan dan kemlelet sedangkan fonky penyeimbang kekonyolan fajar. Nampaknya konsep kami berhasil nyatanya banyak orang tertawa ketika fonky dan fajar perform. Sekitar tiga puluh menit mereka menghibur penonton yang saat itu memenuhi pelataran taman kota Denpasar. Tak terasa kita sudah dipenghujung acara. Alhamdulilah pentas kami di Bali sukses.Setelah pementasan kami harus segera menuju ke terminal Ubung untuk pulang. Mas pris, saya, fajar,fonky bersalam dengan pawargo yang ada disana. Ada mas saipul, pak slamet, mas yunus dan beberapa orang lainnya. Lalu kamipun berpamitan untuk pulang. Fonky dan fajar lalu ganti baju didalam mobil. Tak langsung menuju terminal maka mas kemek pun mengajak ke Erlangga untuk belanja.

Memang tempat ini bagus untuk berfoto karena sebelum masuk keruangan anda akan disuguhkan dengan segala pernak pernik yang berkaitan dengan kebudayaan Bali. Foto dulu biar kelihatan kalau lagi di Bali. Lalu kami berlima masuk ke ruangan belanja tersebut untuk membeli baju. Saya pun langsung terpencar dengan temen teman yang sibuk memilih baju dan celana, entah untuk siapa ?. Mas pris tak banyak memilih baju dia langsung keluar dan menunggu didepan bersama mas kemek. Setelah selesai memilih baju kami bertiga berkumpul dikasir. "450 ribu semuanya mas" kata si kasir. Tiba tiba saya kaget ketika mencari dompet disaku nggak ada. Dengan agak kebingungan kami bertiga sepakat jika uang untuk membayar belanjaan uang dengan patungan. Diluar smalayan saya masih kebingungan, dan kamipun mencarinya. Akhirnya fonky yang menemukan dompet didalam mobil, di sak jaket warna hitam.
Lalu kamipun menuju terminal Ubung. Sebelum masuk terminal mas kemek mengajak untuk makan di depan terminal. Tak banyak waktu untuk makan, langsung saja sayapun bersalaman dengan mas kemek disusul mas pris, fajar dan fonky. "Matur suwun lo yo..ojo kapok dolan rene" kata mas kemek kepada kami berempat. "Iya mas, pasti ndak kapok" jawabku. Lalu kami berjalan kedalam terminal. Rencananya mas pris nggak langsung bertolak ke Tulungagung tapi mampir ke Jember tempat kuliahnya dulu untuk bertemu beberapa orang, mas Sholeh misal. Mas sholeh adalah temen seperjuangan mas pris di reog Unej "Sardulo anorogo". Mas pris ditemani fajar. Sayapun juga mapir Banyuwangi tempat ayah bekerja. Setelah agak lama bus pun mulai beranjak meninggalkan terminal Ubung. Singkat cerita, tiba tiba ditengah perjalanan bus pun diberhentikan oleh beberapa polisi yang membertahu jika kita gak bisa menuju pelabuhan Gilimanuk, karena ada jembatan

Lantas sopir bus pun kebingungan. Sebenarnya bisa saja untuk sampai di pelabuhan gilimanuk namun kita harus putar balik lewat Singaraja. Tetapi jika harus putar balik lewat Singaraja maka butuh waktu 4 jam untuk bisa di pelabuhan. Akhirnya sopir bus pun memutuskan untuk putar balik mengingat waktu semakin pagi. Dengan perjanjian satu orang dikenakan biaya tambahan untuk membeli solar 20rb, kamipun sepakat. Akhirnya bus putar balik. Ditengah perjalanan menuju Singaraja tiba tiba permasalahan datang kembali. Yaitu jalan untuk menuju kesana juga ditutup. Entah kenapa ? Waktu itu saya bangun tidur di bus. Setelah bus itu berhenti sangat lama, sopir bus pun memilih jalan alternatif menuju ke Gilimanuk. Malam itu sekitar pukul 1.00 bus melewati persawahan yang sangat gelap. Sayapun mencoba untuk tidur dan berhasil. Tak terasa bus sudah berada di pelabuhan gilimanuk dan bersiap untuk naik ke kapal. Seusai bus terparkir di dec kapal, saya,mas pris,fonky dan fajar langsung naik ditangga kapal untuk duduk diatas. Selang beberapa menit kami tiba di pelabuhan ketapang.

Saya ditemani fonky akhirnya turun di pom genteng (pkl 4.26 pagi) dan mas apris melanjutkan perjalanan menuju Jember bersama fajar. Lalu saya mencoba menghubungi ayah ternyata gagal. Semakin menambah bingung saja. Kemudian mencoba menghubungi nomer yang satunya ternyata bisa. Akhirnya ayah akan menjemput kami berdua. Tak berselang lama ayah datang. Saya menjabat tangannya. Seketika itu aku sempat meneteskan air mata karena sudah tiga bulan ini belum bertemu beliau. Sejak berada di Banyuwangi. Mungkin rasa kangen nggak bisa dibendung lagi. Disana kami istirahat untuk mengobati rasa capek karena semalam naik bus. Ayah menanyakan kabar saya dan sebaliknya. Setelah ngobrol panjang lebar ayah menyuruh kami untuk tidur. Akhirnya tidur. Kami terbangun pukul 12 siang. Lalu langsung bertanya kepada saya "mulih kapan?". "Paling mengko sore yah" jawabku. Sebenarnya saya ingin pulang keesokan harinya naik kereta. Namun mas eko keburu berkata yang intinya kalau kereta disini gak seperti di Tulungagung' yang setiap hari ada untuk menuju ke Tulungagung. Agak sedikit kecewa sebenarnya tapi mau gimana lagi saya dirumah memiliki tanggungjawab menjaga warung. Hamper 5 hari meninggalkan rumah.

Akhrinya sayapun memutuskan untuk pulang setelah maghrib. Sebelum pulang ayahpun mengajakku untuk berbelanja disebuah mall yang ada di genteng. Dengan naik sepeda motor. Disana saya memilih baju dan celana. Dirasa belanjaan sudah cukup kami beranjak pulang. Ditengah jalan ayah bertanya "gak pengen oleh oleh" tanya ayah."Pengen yah" jawabku. Lalu ayah mampir di pusat oleh oleh khas banyuwangi. Satu persatu saya mengambil oleh oleh tersebut. Lalu kamipun segera menuju kerumah mengingat waktu hampir sore. Seusai itu kami menunggu bus dihalaman rumah, karena depan rumah adalah jalur bus. Saya dan fonky menunggu kiranya tiga puluh menit bus Harapan baru tersebut datang. Saya berpamitan ayah dan mas eko. Lagi lagi saya menitikan air mata karena harus perpisah dengan ayah. Kami berdua naik bus harapan baru yang melaju sangat kencang. Tak terasa matahari mulai menanmpakkan sinarnya dan akhirnya kami sampai juga di Tulungagung. 




Wednesday, 3 February 2016

Senggol Aja Duluu…

oleh: Lubi


Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata senggol? Adakah yang berfikiran bahwa saya akan menceritakan tentang kejadian dimana saya disenggol seorang pria lalu akhirnya saling jatuh cinta? Kalau ada yang berfikiran seperti itu maka 95% kalian telah menjadi korban FTV. Ini bukan tentang kisah cinta tetapi tentang tempat menumbuhkan rasa cinta (cieee cinta), suatu tempat berwujud pasar yang terletak di Desa Bangoan Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. 
Foto diperoleh dari, Tulungagung.go.id

Masyarakat tulungagung menyebutnya dengan Pasar Senggol kebayangkan mengapa masyarakat menamainya Pasar Senggol, saking ramainya pengunjung di pasar ini maka sering terjadi senggol-senggolan antar pengunjung (tanpa disengaja loh ini) seperti tidak pernah kesepian pasar ini selalu ramai pengunjung mulai pukul 04.00 sudah dipenuhi pelancong ataupun masyarakat sekitar Tulungagung dan pukul 07.00 saya pastikan sudah banyak makanan yang habis digasak pembeli. Lalu apa aja sih yang ditawarkan di dalam pasar ini kok sampai bisa menarik pengunjung seriap hari dan tidak pernah sepi? Lain dari pasar-pasar pada umumnya pasar senggol menyediakan berbagai jenis makanan tradisional jawa dan makanan khas dari Tulungagung seperti Cenil, Gatot, Growol, Nasi Tiwul, Nasi Ampok, Punten dan banyak makanan tradisional lainnya jangan takut apa yang kalian inginkan tidak tersedia karena Pasar ini menyediakan hampir seluruh makanan dan jajanan pasar tradisonal. 

Bagi warga Tulungagung yang berdomisili di luar Tulungagung ataupun luar kota pasar ini selalu menjadi tujuan utama untuk melepas rindu akan cita rasa olahan pangan khas Tulungagung karena saya yakin diluar sana sulit ditemukan pasar yang menyediakan ragam makanan tradisional seperti pasar ini, Ibu saya contohnya ketika pulang dari Singapura beliau selalu minta diantar ke pasar senggol untuk membeli nasi tiwul+daun papaya+sayur ikan pedas serta cenil dan gatot katanya makanan seperti ini jika dimasak di luar negeri rasanya akan berbeda entah apa yang membuat berbeda tapi mungkin karena ini milik tulungagung maka tidak dapat dimiliki di luar kota/Negara. 

Jadi untuk kalian yang sedang berada di luar kota pasar senggol menjadi tempat yang wajib anda sambangi ketika berkunjung ke Tulungagung, sering mampir ke pasar ini dapat memuaskan hasrat bekuliner kita sambil bernostalgia dengan masa lalu (bukan mantan) dimana junkfood dan makanan instant lainnya belum merajai pasar dan mengkontaminasi selera makan masyarakat Indonesia, Tulungagung khususnya. Padahal makanan tradisional jauh lebih sehat dan bergizi dibanding makanan cepat saji tapi mungkin karena era globalisasi mengharuskan kita mengikuti arusnnya maka cenil and the genk perlahan tenggelam terbawa arus dan akhirnya menjadi susah ditemui hingga suatu saat mereka benar-benar hilang disaat itulah kita baru merasakan bahwa kehadirannya sungguh berharga yang akan sangat kita rindukan. Penikmat Cenil yang terbuat dari perpaduan ketela pohon dibalut parutan kelapa ditambah cucuran gula merah kini ditikung oleh mie instan yang dikocok bersama telur dan dan diberi saus sambal (sebut saja omelet) yang sebenarnya tidak mengandung nilai gizi diatas cenil yang tebuat dari bahan alami. Jadi perlu banget mengunjungi Pasar senggol ini, dijamin kalian puas dan betah berlama-lama mengunjungi Tulungagung.

Tuesday, 2 February 2016

Perjalanan Panjang menjadi Announcer di Radio SMA N 1 Ngunut

 Sekolahku tahun ini punya Kepala Sekolah baru dan radio baru. Oh ya, saya bersekolah di SMA Negeri 1 Ngunut. Ngomong-ngomong masalah yang baru-baru, jangan sampe kalian nanya kapan saya punya pacar baru..

Kali ini saya bakal cerita tentang radio baru. Hm, kenapa bukan cerita tentang kepsek baru nya? Ya sebenarnya suka-suka saya sih mau cerita yang mana, tapi kalau kalian masih ngotot pengen tau, alasannya karena saya tertarik dengan dunia keradioan.
Jadi beberapa hari setelah peresmian radio. Ada pengumuman bahwa dicari announcer untuk radio sekolah. Otomatis dong, saya yang notabene tertarik sama dunia keradioan sama kayak saya tertarik sama kamu, langsung daftar jadi pacar kamu. Eh, jadi announcer ding. Waktu itu yang daftar ada 2 orang dari kelasku. Yaitu saya dan ketua kelas, namanya Junda.

Satu minggu setelah pendaftaran, tepatnya hari Kamis, saya diberitahu bahwa besok ada tes untuk announcer. “Bril, sesok bar jum’atan tes vocal ngge penyiar radio.” Kata Junda. Hah? Tes? Tes vocal? “oi jun, tes vocal kui sing piye sih?” “alah mek kon ngomong kaya wong siaran, sing diomongne bebas. Mengko direkam terus diseleksi.” Ohhhhhhh, sumpah pertama kali saya denger tes vocal, yang ada dibenak saya adalah disuruh nyanyi hahahaa. Dan syukurlah ternyata bukan, karena sadar, saya ini nggak bisa nyanyi. Jadi kalau sampe dites nyanyi kemungkinan lolos Cuma 0,000000099% serius deh. Tapi tetep aja waktu itu saya panic, keringet dingin, kejang-kejang, gelap……… becanda. Waktu itu saya Cuma merem, makanya gelap. Dan sekarang masalahnya adalah saya nggak tau dan nggak pernah siaran sama sekali.

Sampe rumah saya inget kalau salah satu omku pernah jadi announcer. Langsung aja tak bbm dan curhat tentang saya yang nekat daftar jadi announcer di radio sekolah, betapa nggak PD-nya. grogi, dan apakah punya peluang serta mampu buat jadi seorang announcer? Awalnya saya kira bakal dibecandain, karena kebiasaan sih kalau saya lagi serius malah dibecandain. Tapi ternyata dugaan saya salah. Saya malah dikuliahin panjang kali lebar sama dengan luas. “sik, kabeh kui nduwe peluang nang ngendi ae. Tergantung kemauanmu. Lek masalah kemampuan iso dipelajari sakwise awakmu ndue kemauan. Gedekne niatmu disik. Ora oleh wedi, ora oleh grogi.” Oke, saya sangat termotivasi setelah baca bbm tersebut. “pertama lan sing utama iku public speaking mu. Pas awakmu ngomong gawe wong akeh kui piye, iso dirungokne gak, iso dinikmati karo uwong gak, intonasi pas ngomong diperhatikan, ekspresi, caramu merespon sekitar, aja cengengesan gak jelas. Pokok announcer iku kudu peka.” Begitulah kira-kira bbm dari omku, kayaknya sih masih panjang, tapi saya lupa.
Besoknya saya masih bingung mau ngomongin apa. Rencananya sih, saya mau ngomongin novel yang baru selesai saya baca. Tapi kayaknya kok berat banget gitu topiknya, saya pengen sesuatu yang agak santai lah. Dan tiba-tiba saya ingat sama artikel yang saya tulis kemarin dulu tentang make up yang juga pernah dipost di sini. Akhirnya saya memutuskan untuk ngebahas masalah makeup pada saat tes vocal nanti.

Sampailah pada saat yang menegangkan siang itu, namaku dipanggil buat tes. Oke, I must do it and I can do it! Apalagi saya sudah janji, saya nggak bakal grogi ataupun takut. Tapi apalah dayaku yang hanya manusia biasa ini.. grogi? tetap, jantung berdetak kencang? Iya, saat memasuki ruangan itu, dan adrenalin saya berada pada puncaknya. Berasa mau ketemu gebetan baru duh



Kesan pertama saat masuk ruang siaran adalah ruangannya dingin. Setelah mengisi daftar hadir dan duduk ditempat yang sudah disediakan. Tanganku bergetar. Di ruangan itu ada 3 orang anak manusia, yaitu saya dan 2 panitia dari OSIS. “sudah siap?” Tanya salah satu anak OSIS. “Sik lah, tak ambegan…….. saiki aku siap!” hm, tenang.. calm down.. ini hanya ngomong depan mic, nggak bakal masuk radio, Cuma direkam untuk diseleksi. Begitu kiranya yang saya fikirkan untuk menenangkan diri. Dan ngoceh pun dimulai !!!. Lama kelamaan saya menikmati apa yang saya lakukan. Tapi memang tidak semua yang ada di hidup ini sesuai seperti yang kita inginkan. misalnya saya suka sama kamu tapi kamu nggak suka sama saya, *loh? Oke sorry OOT. Iya jadi waktu lagi asik ngoceh ada anak OSIS yang tiba-tiba masuk ruangan dan bilang “hehhhh!!! Siarane mlebu radio, di rungokne streamingan yo kenek. Aku tas ngrungokne, sopo sing sek tas siaran?” deg! Saya panic, artinya dari tadi saya didengerin orang luar, speechless, grogi, gugup, lupa tadi dari mana ceritanya duh..

Katanya nanti kalau lolos tahap pertama, tes vocal ini bakal dapat SMS dari panitia dan lanjut ke tahap berikutnya. Saya nunggu sampai Sabtu malam nggak ada SMS yang masuk, setiap ada SMS saya ‘ndredeg’ tapi ternyata SMS operator, oke saya kecewa setiap operator yang SMS. Saya curhat lagi sama omku, “Om, kaya e aku ora lolos tes wingi. Aku grogi, speechless gek msok ket saiki aku ora diSMS panitia.” Tak lama kemudian, “announcer kok pesimis.” “lha ket saiki aku ora diSMS lho:’(“ saya tambah emoticon nangis dibelakang biar agak drama ceritanya. “dadi uwong iku sing sabar.” Saya sudah gak terlalu berharap lagi buat jadi announcer, sama kayak saya yang sekarang udah nggak terlalu berharap kamu bakal suka sama aku.
Keesokan harinya, waktu bangun tidur saya langsung cari HP. Yah biasalah kan masih termasuk remaja yang bangun tidur langsung cek HP. Dengan mata masik belekan dan belum sadar sepenuhnya, saya lihat ada pesan masuk di HP. Ternyata pesan dari panitia, yang isinya pemberitahuan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya yang akan dilakukan hari jum’at depan. Ah saya langsung bangun dan saya baca lagi SMS tsb, dan saya senaaaaaaaaang sekali hahahaha. Berasa kayak dapat ucapan selamat pagi dari kamu. Langsung deh saya kasih tau om, dengan maksud mencari dukungan darinya.

Hari-haripun berlalu, ternyata tes tahap selanjutnya adalah tes wawancara. Oke, saya belum pernah wawancara, dan agak takut. Bayangan apa saja yang akan ditanyakan dalam wawancara sangat menakutkan. Akhirnya bbm lagi ke om, yah siapa tahu ada sedikit pencerahan tentang wawancara. “om, sok jum’at aku tes wawancara. Tes wawancara kui piye? Aku kudu piye?” “tes wawancara iku lek enek pertanyaan yo jawaben.” Sayaa gondok. Sebel. Saya malas balas bbmnya. kalau itu saya juga tau kali, memang benar apa yang dikatakan omku, tapi sayakan pengennya bukan jawaban seperti itu hu.
Pada hari H tes wawancara, saya kira bakal dibentak-bentak atau akan diintimidasi oleh pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara tapi ternyata saya salah. Wawancara hari itu suasanya asyik, yang mewawancarai adalah salah seorang guru olahraga yang juga seorang penyiar dan manager di salah satu radio di Tulungagung. Pertanyaan yang diajukan cukup mudah dan saya menjawab dengan lancar. Selesailah tahap tes kedua ini.
Sama seperti sebelumnya, apabila lolos tahap kedua akan diSMS oleh panitia. menunggu lagi. Dan saya, masih sama kayak manusia-manusia lain yang nggak suka menunggu. Tiap hari deg2an kalau ada SMS masuk. 3 hari berlalu dengan saya yang masih menunggu, rasa pesimis itu muncul lagi. Kadang saya iri dengan mereka yang bisa berfikir positif, optimis, dan selalu percaya diri. Saya berharap bisa jadi orang yang seperti itu. Ah sudahlah, paling tidak saya berani untuk mencoba, toh kalaupun tidak lolos, saya sudah dapat pengalaman. Mungkin bukan passion saya, bukan bakat saya menjadi bagian dari dunia keradioan.
Sama seperti yang pertama, ketika saya sudah tidak berharap lagi, saya dapat SMS yang berisi tentang ucapan selamat, akhirnya saya masuk menjadi team keradioan sekolah. Oh, syukurlah. Saya senang sekali tentunya. Tapi sayangnya belum resmi jadi seorang announcer, karena untuk menjadi seorang announcer perlu di seleksi lagi. Diseleksi sambil jalan katanya. Lagi pula di dunia keradioan itu tidak hanya melulu tentang announcer, ada penulis berita, pewawancara, dan bagian-bagian lain yang tak kalah penting dengan seorang penyiar, walaupun hanya berada dibelakang layar. Tapi tetap saja, saya benar-benar kepengen jadi seorang announcer.

Kebetulan hari Sab’tu kemarin di sekolahku ada CampusFair, dan team radio bertugas menyiarkan acara tersebut. Saya adalah salah satu yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk siaran perdana hahaha. Oh ya dan juga hari ini, tepatnya hari Selasa pada jam istirahat saya berkesempatan untuk mewawancarai seorang kakak kelas. Hm, wawancara hari ini sebenarnya sangat tidak direncanakan alias dadakan. Saya belum menyiapkan pertanyaan apapun, Karena memang ‘ndadak’. Ini adalah pengalaman pertama saya mewawancarai orang secara langsung, biasanya kalau ada tugas wawancara di mapel Bahasa Indonesia kan ada persiapannya sedangkan tadi itu tidak ada persiapan sama sekali. Hmmm, agak grogi, dan sempat kesleo lidah pas penutupan hahaaa. Tapi untuk sesuatu yang dadakan dan pertama kali saya lakukan, saya kira nilainya 79 lah..

Saya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih optimis lagi, selalu berfikian positif. Sama seperti yang dikatakan omku, tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting niat. Usaha dan do’a juga sangat penting. Saya rasa merasa grogi, takut dan nggak PD itu manusiawi, siapa sih yang nggak pernah merasakannya? Kalian pasti juga pernah kan. Tinggal bagaimana kita mengatasi perasaan tsb, karena kita harus, wajib dan kudu bisa mengatasi mereka agar kita berani mencoba dan melakukan hal2 yang luar biasa. saya juga berharap saya bisa jadi announcer di radio sekolah. Aamiinin lah..

Karya: Ebril

Thursday, 21 January 2016

Make Up dan Semangat Untuk Mencoba

Make up? tahunya cuma bedak, pensil alis sama pelembab, udah!!. Gak Masalah, toh ketiganya juga termasuk alat make up. Selain ketiga benda itu pengetahuan saya tentang make up benar-benar cethek. Apalagi masalah merknya, saya benar-benar kurang paham. Ya jadi jangan bahas soal merk-merk make up sama saya lah.. Gak bakal nyambung, sumpah! 


Bicara masalah make up, akhir-akhir ini tepatnya setahun terakhir saya jadi akrab dengan mereka. Kenapa? Karena kalau ada tanggapan ya harus dimake up. oh iya, sudah satu tahun ini saya gabung dengan grup reog Ponorogo Cahaya Budaya. Jadi mau ndak mau saya harus dirias ketika akan pentas. walaupun masih nggak ngeh beda merk satu dengan lainnya, pokoknya kalau yang satu dipakai lebih bagus daripada yang satunya berarti itu merknya lebih bagus dan mahal haahahaa. Bener tho?



Dulu, kalau ada pementasan selalu dimake up sama orang lain, tapi lama kelamaan saya mulai belajar lah sedikit2. Kan nggak enak juga kalau setiap pentas ngrepotin orang,nanti malah di bilang "uwong kok panggah ngrepoti ae" Pernah ada kejadian, waktu itu grub kami (read: reog ponorogo) ditanggap sama orang disuruh ikut karnaval. Kebetulan besoknya ada tanggapan lain jadi para penari cewek (read: jathil) disarankan nggak ikut karnaval tsb, toh cuma jalan. Nanti capek katanya. 

Saya dan teman-temanpun setuju untuk nggak ikut karnaval. Tapi kami diberi tugas untuk merias para cewek yang menggantikan kami, kan g asyik kalau reog ponorogo tanpa jathil. Waktu itu saya nekat mau merias seekor anak orang, padahal merias diri sendiri saja masih belepotan. Tapi entah apa yang saya fikirkan, saya benar2 pengen nyoba, kan nggak salah. kapan lagi ada orang yang mau saya rias?? untuk persiapam sebelum hari-H saya mencoba merias keponakan sebagai bahan percobaan. kalau difikir kok mau2nya gitu keponakan saya dipakai sebagai kelinci percobaan. tentu saja saat itu saya bersyukur karena dia mau, soalnya saya nggak punya stok mau membohongi siapa lagi kalau bukan dia HAHAHAHA *ketawajahat*. 


Besoknya, dengan tekad dan semangat 45 layaknya mau ketemu gebetan, saya merealisasikan keinginan untuk merias orang. Hasilnya? jedeeerrrrr Jangaan tanya, ancurrrrrr, hati saya juga hancur wktu lihat hasilnya, rasanya kayak pas tahu mantan pacar sudah punya pacar baruu *ehhhhh. waktu saya sadar, ternyata saya nggak bisa merias orang huhu,


Setelah kejadian itu saya nggak pernah membiarkan tangan saya ini merias orang, karena saya takut nanti hancur lagi. sama kayak saya yang nggak mau balikan sama mantan, karna takut endingnya bakal sama, kayak baca buku yg sama dua kali, sorry jadi curhat. but, i must move on cz show must go on. Karena saya masih penasaran, saya memutuskan untuk belajar, belajaaar dan belajar. tapi kali ini dengan wajah sendiri. taulah saya nggak tega bo'ongin ponakan lagi, kasian. hasilnya sekarang saya sudah bisa. yeeeeee

Iya saya sudah bisa rias sendiri maupun merias orang. Hasilnya ya nggak bisa halus banget kayak di salon2 mahal, tapi saya cukup puaslah.



Saya berharap kalian juga sama, jangan cepat menyerah dengan apa yang kalian inginkan. seperti saya, awalnya benar2 nggak bisa dan nggak ngerti apa2, bahkan pernah gagal tapi tetap berusaha sampai pada titik dimana saya mendapatkan hasil dari usaha tersebut. 



Gagal dan usaha lagi bagi saya seperti tahu kalau pacaran bakal sakit waktu putusnya tapi tetep pengen nyoba haha. termasuk proses untuk mencapai titik ini, bukan hanya dalam urusan make up tapi juga untuk urusan yang lain. mantan misalnya. intinya jangan takut dengan kegagalan, tetap berusaha itu penting. duh kok mulek yo..








Dan ini foto saya lagi makeup-in teman saya yang mau ikut karnaval


bisa menemui penulis di FB. https://www.facebook.com/boutcah.aiiyu

Monday, 18 January 2016

Pantai Sine Tempat Untuk Melupakan Mantan

Minggu, 17 januari 2015
Pagi itu saya  bangun pukul 07:00 itupun karena mendapat telephon dari sepupu yang meminta untuk mengantar anaknya pijat ke dukun bayi. Alih-alih bergegas mandi dan menyiapkan diri, saya malah memasukkan baju ke mesin cuci dan kembali tidur sampai sepupu saya datang dan seketika mengomel ketika melihat saya masih kumal dengan mata membendul seperti ikan koi karena malamnya panen air mata. tidak perlu saya ceritakan kenapa menangis, karena hari ini saya akan bercerita tentang hari Minggu paling bergairah. Kembali ke skrip, setelah selesai mendengarkan khutbah pagi dari sepupu, akhirnya kakiku melangkah ke kamar mandi dan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk membersihkan diri dan bersolek, gak perlu lama karena kamu tahukan saya kayak Syahrini dengna maju mundur cantik-cantik. Kicauan sepupu perempuan saya ini sungguh dapat membuat segala pekerjaan menjadi cepat selesai.

Kami berangkat ke dukun pijat yang berada di Ds.Sumberejo wetan, 30 menit kami berada di sana. waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 dan sayapun teringat saatnya mengisi perut mungilku (yeeeeeeii), kita memilih memakan bakso di tepi DAM atau di Sungai Pulosari yang terkenal murah dan enak! Selesai makan saya diantar pulang dan ternyata tidak ada satu orangpun dirumah, karena bingung ingin melakukan apa saya teringat cucian yang perlu dijemur dibawah terik matahari yang dapat membuat kulit  gosong. Pekerjaan sudah selesai dan (taraaaa) saya masih merasa bosan dengan hari minggu ini.

Sampai akhirnya kawan jathil saya yg bermerk Tissa, mengajak jalan-jalan bersama dengan kawan-kawan reyog cahaya budaya yg kebetulan hampir semuanya adalah orang-orang suwong. Jadi mereka suka menjelajahi tempat wisata di Tulungagung utamanya wisata alam. Mereka mengajak saya ke pantai Sine karena masuknya gratis!!! Saya pun sangat exited dan bersemangat pergi ke pantai untuk yg pertama kalinya setelah menetap di Tulungagung.

 Pukul 12:00 semua berkumpul di rumah mas Ebin rencananya berangkat sehabis Dhuhur tetapi saya ngotot untuk segera berangkat karena tidak sabar dan takut pulang terlalu sore. Tapi taukah kalian apa yg terjadi??? disaat kita sudah bersiap berangkat ban motor milik peyek ternyata bocor. Dan kita semua harus menunggu dia menambal ban. Niat hati ingin cepat berangkat tapi apadaya harus terhambat gara-gara kamu, eh gara-gara ban! Andaikaan ban motor terbuat dari spons yangg tidak bisa bocor.. hhahaa tapi sebenarnya saya betah juga menunggu meskipun lama dirumah mas Ebin. jangan tanya mengapa karena ku tak tahu (sambil nyanyi lagunya ratu).... haha saya tidak akan memberi tahu! setengah jam kemudian semua sudah siap berangkat dan kita bersepuluh pun berangkat menuju patai sine, dijalan saya bernyanyi, berfoto, dan ngepoin si peyek.
 di perjalanan (jangan lupa senyum) cekrek

Nampak jelas wajah  saya sangat bersinar dan tawa yg tidak pernah terlepaskan, tapi semua berubah ketika memasuki jalan menuju pantai yang berkelok, curam dan tajam membuat jantung berdetak lebih kencang ! apakah aku sedang jatuh cinta?? ya enggak lah, ini karena jalannya menakutkan dan peyek yang nyetir dengan kecepatan seperti alap2 membuat bibir ini berhenti tertawa dan tidak henti berdzikir,  ya Allah aku pingin menikah, ah bukan aku takut nyungseep. Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai kami tiba di pos peristirahatan. Kami istirahat sambil menunggu Sela yang katanya mau menyusul dengan temannya. Pemandangan hamparan laut lepas yg biru, pepohonan hijau yang rindang gemulai serta perahu nelayan yg terombang ambing disapu ombak menarik perhatian kita untuk berfoto kekinian. Kita berpose dengan gaya yang tidak ajiibb sama sekali tapi itu tidak penting karena memperlihatkan pemandangan yang cantik jauh lebih penting dari meperlihatkan wajah cantik dan tampan kami. 

  yang pake helm itu yang paling jelek

Setelah puas berfoto Sela yg ditunggu pun tak kunjung datang apalah arti aku menunggu bila dia tidak jadi datang, semacam pdkt lama yang ga nembak-nembak, dan kami bergegas menuju pantai.

Yihaaa!!! akhirnya kakiku menginjak pasir Pantai Sine yang mashur itu, kini aku dapat menyaksikan sendiri kemolekan pantai Sine yang menjadi primadona Tulungagung kebetulan saat itu tidak ramai pengunjung. Jadi kami bebas menguasai pantai, akupun langsung berganti baju dan mulai membelai air bersama Tisa dan kawan-kawan. Seakan rindu dengan datangnya gebetan mereka langsung menyosor datangnya ombak dengan gaya sok macho. Semuanya bermain bersama ombak Pantai Sine yang sedang bersahabat, tidak lupa kami juga berselfie bersama pasir, ombak dan perahu. Siang itu seakan Sine menjadi milik anak Reyog Cahaya Budaya, matahari saja tidak berani bersinar terang karena sudah pasti kalah dengan sinar yg terpancar dari senyum dan tawa maut yg dimiliki sang Fajar(kijor) dan kawan nggruwis lainyya.

 Pantai Sine, bagus ya

Sine menjadi saksi kekompakan, keceriaan, kekeluargaan, dan kengenuhan kita.  Hari itu rasanya aku memiliki banyak saudara yang sangat menyayangi dan memperdulikan aku. Tidak hanya bersatu dengan sesama manusia tapi kami anak Reyog Cahaya Budaya yg sudah terbentuk selama lebih dari 1th juga dapat bersatu dg alam.  Dengan tidak membuang sampah sembarangan dan merusak ekosistem pantai kita menjaga keletarian dan kebersihan wisata alam kebanggan kota kita ini, dengan harapan alam juga dapat selalu mempersatukan kami dan menjaga jiwa kekeluargaaan kami.


Lestari alamku lestari negeriku lestari dengan kamu (halah) Mudah-mudahan kami tidak termasuk tunas bangsa yang bersenang-senang menikmati indahnya alam dengan  merusak dan tidak dapat menjaga kesuciannya.
Sudah puas kami bercengkrama di pantai, kami pun bergegas pulang meninggalkan jejak dan kenangan yang terbentuk selama hampir dua setengah jam itu. Dalam hati berkata, selamat tinggal Sine semoga dapat menemuimu dilain waktu dengan orang yang saat ini g ikut. Aku mohon tetaplah Indah dan tetaplah kokoh dan jangan pernah murka kepada kami yang mencintaimu. Semoga suatu saat namamu dikenal dan dikenang oleh dunia beserta kami pemuda-pemudi harapan Tulungagung.

bisa menemui penulis di FB. https://www.facebook.com/profile.php?id=100004979628899

Saturday, 12 December 2015

Tidak ada yang Percuma Semua Ciptaan Tuhan

By: Ypi W

Mendo,bodho  atau dengan kata lain sulit diajak berfikir adalah sesuatu yang bikin seseorang minder. Kalaupun ada seseorang yang  mendo pastinya dengan sekuat tenaga akan menutupinya biar  nggak kelihatan, sebenarnya relatif sih.Tapi semua itu nggak berlaku buatku,nyantai aja.  selama ini Mendo seakan menjadi jimat keberuntungan. Akhir-akhir ini aku berfikir, semua yang ku dapatkan selama ini adalah buah dari kemendoanku.
Ini cerita tentang mendo karunia Tuhan yang harus kusyukuri.
 Berawal saat masih smp saat itu sekitar tahun 2006, pada masa itu anak-anak smp lagi gandrung-gandrungnya dengan yang namanya gelutan (berkelahi) dan membuat geng-gengan, kalaupun ada anak cowok yang punya nyali namun tidak memiliki geng,  saat itu pasti udah mati berdiri jadi bahan tonjok-tonjokan atau buli-bulian salah sedikit tonjok hahahhaah.
Nyali bertarung tersebut muncul nggak loko-loko (tiba-tiba), pastinya ada background yang jelas dari masing-masing anak, entah ikut organisasi beladiri, atau punya relasi dengan orang kuat kaya lagunya slank biar bisa tidur-tiduran. Waktu itu aku masih baru masuk Sekolah, rasa takut malu minder jadi satu, takut salah berbuat, malu karena aku masih anak baru, minder karena penampilanku kurang ganteng  wkwkwk.
Yang pasti hari-hari selalu salah tingkah saat di Sekolah. Dan kejadian itupun terjadi, waktu itu aku sedang berjalan di lorong Sekolah, didepanku ada segerombolan anak sedang duduk-duduk, aku udah curiga kok pandangan salah satu cowok nggak enak banget, kuteruskan langkahku saat tiba dihadapannya diapun berdiri “mati aku” “Heh ndak sah plilak-plilik, sing penak ae lek nyawang, cah ngendi awakmu ( Heh gak usah (apa plilak plilik bahasa endonesianya)..... yang enak aja kalau melihat,  anak mana kamu?” aku jawab “ aku cah ” (aku anak ). Kenapa aku bilang anak ? Karena di  adalah basis organisasi silat A. “ ngendi koe? Cedake si B, Ow yowes gak usah kemlelet neng kene ( mana? Dekatnya si B, Ow yaudah gak usah belagu lu disini) selamat dah aku. Usut punya usut cowok tadi ikut organisasi A, otomatis dia respek banget sama anak-anak .
 Disini kemendoanku menyelamatkanku untuk pertama kalinya hahahaha bersukur dah. Gimana bisa dibilang menyelamatkan, sebenarnya aku bukan anak  tapi karena aku dulu waktu SD pernah nggerombol sama anak  yan umurnya diatasku. Waktu itu aku sering ikut ke sungai disuruh beliin sandal disuruh beliin rokok, disuruh ambilin bola saat sepak bola dan masih banyak lagi, apa daya aku hanyalah anak mendo yang hanya dapat diambil tenaganya. Tapi aku bersyukur andai kata aku nggak mendo aku gak akan kenal relasi orang-orang kuat hehe makasih temen-temen  dan aku pasti udah bonyok di awal masuk smp.


Friday, 11 December 2015

Antara Aku Kau dan Hujan

By: PTK

Bangun pagi adalah perjuangan yang berat. Melebihi tugas ketika sekolah. Bukan apa-apa, jam tidurku sudah berubah semenjak beberapa bulan yang lalu. Entah mengapa kok saya menyanggupi ketika kau ajak untuk ke Blitar, rumah kakakmu yang mungkin saja menjadi kakak iparku (ngarep).  Pagi itu kau sudah tiba, dengan senyummu yang bisa meruntuhkan amarah Rahwana kusambut pagi ini. Kau cantik hari ini, dan aku suka kayak lagunya blackout. Tapi ada yang kurang, bukankah wanita akan terlihat cantik ketika bangun tidur? Tanpa make up masih alami. 
Akhirnya kita berangkat, seperti lagu naik delman kududuk dimuka, bukan samping  pak kusir, tapi aku yang jadi sopir. Ga papa, demi kamu. Layaknya kawan lama, kita mulai obrolan dengan santai, entah siapa yang memulai, kau bercerita tentang mantanmu. Iya, ternyata kisahmu kandas, Alhamdulillah. Berita baik hari ini bagiku, tak sia-sia kubangun pagi.
Tak terasa sampai juga di rumah kakakmu. Layaknya calon istriable kamu langsung menawarkan untuk membuatkan kopi tanpa di minta.
Kopi tik? Sambil melepas jaket dan kerudung.
Iyo wis lak dipekso. (iya kalau dipaksa) maklum saya kan pemalu.
Kamu langsung ke dapur untuk menjerang air, sambil menunggu kopi selesai diseduh aku melepas jaket. Tak lupa berandai-andai. Iya, hanya andai-andai. Untuk orang seperti saya apa to yang dipunya selain tenogo lan tresno? Tentu berandai-andai adalah hiburan gratis yang dapat dilakukan kapan saja.
Monggo diunjuk kopine, begitu katamu tiba-tiba yang membuyarkan lamunanku. Ah, kembali senyum itu tersungging. Dalam hati saya berani bertaruh, andai kopi ini gak dikasih gula pasti sudah manis.

kopi iki gaweanmu? Sambil saya mulai menyeruput kopi.
iyo ngopo emange?
ndak apa-apa. hanya saja kopimu iki kemanisen. Betul kan kalau kopinya bakal kemanisen.

Sarapan yuk, oke kataku. Blitar memiliki warung pecel yang lumayan terkenal bahkan sampai membuka cabang di Jakarta. Kami mengantri, maklum jam sarapan tentu saja warungnya ramai. Setelah mendapat nasi dan tempat duduk Sambil makan, aku melontorkan sebuah pertanyaan. Udah berapa kali sampean maem disini ? sering..sampean ? Tanyamu.  masih dua kali iki maem pecel disini. Selesai makan bergegaslah kami menuju rumah tua itu untuk istirahat. Karena pukul setengah 1, dia akan merekam suaranya dan aku menjadi pengiringnya.
lagu happy brithday mengalun dengan indahnya. Lagu ini untuk temannya yang akan merayakan ulang tahun. Setelah dua jam berlalu selesai sudah rekaman ini. Kami kembali  kerumah tua itu, dengan wajah tampak loyo dan capek. Tiba-tiba Mendungpun menghitam dan butiran air hujan kelihatan akan segera jatuh. Ternyata benar apa yang kuduga hujan akhirnya membahasi pelataran rumah tua itu dan kamipun tertahan disitu. Jadi teringat lagunya Utopia Hujan.
Sembari menunggu hujan reda diapun bernyanyi beberapa lagu romantis dan lagi lagi aku jadi pengiringnya. Tak apalah jadi pengiring, berharap suatu saat menjadi pengiring hidupnya untuk yang lama, hahaha. Sesaat kemudian perut terasa lapar, dingin memang selalu menyebabkan rasa lapar lebih cepat dari biasanya.      

Masak mie aja ya (mau keluar beli makanan agak jauh ya gak mungkin dia pasti takut kebasahan).
Iyo cocok tik, sebelah rumah ada toko yang jualan mie, temenin yuk.
Akhirnya nekad dengan menggunakan payung gambar bunga warna coklat tua, kami membeli mie instan. Hujan tambah deras, suara petir ang menggelegar, ditambah satu payung berdua, semakin mirip FTV. Tak lupa kepalamu kau tempelkan di lenganku, untungnya lenganku fleksibel bisa untuk apa saja, janganku untuk bersandar kepala, untuk bersandar keluarga saja lenganku sudah kuat kok.

Tiba-tiba kau terpeleset, aduh, teriakmu. maklum hujan dan tentu licin.
Ndak apa apa kan ?
Ndak apa apa tik, dalane lunyu, jawab dia sambil memakai sandal yang terlepas.
Setelah membeli mie instan, kita memasak di dapur, begitu selesai Kita makan bareng bersama kakaknya diruang tamu. Hujan pun agak reda dia berkemas kemas untuk segera pulang.
sambil menggunakan jilbab dia bertanya..Lewat ngendi iki penake?, nek lewat dalan sing mau hujane urung terang, lihaten mundunge kulon sik putih (menandakan hujan). Sementara waktu hampir maghrib.           

Muter wae yo Nik, lewat etan karo ngenteni terang..dalam hati biar lama sama kamu dan berharap bisa hujan-hujan berdua lagi.
Memang Hujan tidak sederas yang kuharapkan, tapi yakin kenangan akan hujan ini akan selalu teringat. Nik, apakah sekarang tempatmu masih hujan???

Tulisan ini dibuat sambil mendengar lagunya utopia Hujan