Tuesday, 11 April 2017

Nyadran

Oleh : mahapatih egal egol
Sadranan, atau biasa disebut dengan nyadran bagi orang Jawa. Sadranan sendiri yang penulis pernah ketahui, dilaksanakan di area pundhen makam dengan menggelar tikar sebagai alas. Selain itu juga disertai dengan sesajen yang diwadahi tampah, loyang, dan ember seperti: gunungan nasi kuning, apem, ayam yang diolah ingkungan, kulupan, sambal goreng kentang, tahu yang dibumbui, dan air putih yang dimasukin dalam wadah kendhi. Pelaksanaan nyadran sendiri pada waktu pagi hari, atau sore hari, adapun siang hari tapi pelaksanaannya jarang, dan dipimpin oleh dukun atau tokoh masyarakat setempat yang biasanya dibawa oleh orang penyadran. Di dalam pelaksanaan sadranan, warga setempat juga turut diundang sebagai makmum (peserta sadranan).
Nyadran adalah tradisi yang dilakukan pada bulan Ruwah atau Sya’ban. Pada zaman sebelum Islam, upacara ini diselenggarakan untuk memuja roh para leluhur, selaras Animisme-Dinamisme yang menjadi model kepercayaan masyarakat saat itu. Namun pada saat sekarang, tradisi ini mengalami pergeseran makna dan bentuk, yakni dari pemujaan terhadap roh menjadi ritual untuk menunjukkan bakti seorang anak kepada orangtua. Hal yang menjadi alasan mengapa orang Jawa melakukannya setiap bulan Sya’ban, karena bulan tersebut bulan yang tepat (Sri HIdayati, 2003:2-3). Tradisi budaya nyadran dengan adanya perjalanan waktu, dilaksanakan tidak hanya pada bulan Sy’ban maupun Ruwah, melainkan saat-saat akan diadakannya hajatan pada suatu warga, seperti halnya hajatan pernikahan, pendirian rumah, maupun ruwatan. Bahkan saat menjelang bulan Ramadhan tiba, para warga mengadakan slametan di masjid, mushola, atau makam.
Menurut Bapak Sukriston, arti dari nyadran adalah nyadran, ungkapan rasa syukur atas berkah yang diterima lumantar CiptaanNya, Bumi-Geni-Angin-Lintang-Rembulan-Air-Kayu-Watu dan lain sebagainya, serta memuji kemuliaan bagi arwah pinuji yang telah nyata berjasa, berjuang mengembangkan budi pekerti luhur, berjasa membuka cikal bakal cepuren, desa, wilayah, pejuang kemerdekaan suatu bangsa. Nyadran, menciptakan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Nyadran menjadi modal sosial dan kearifan lokal, Nyadran adalah menyebarkan 'etika' dalam bungkusan estetika tentang kemanusiaan yang adil dan beradap, Manusia berTuhan (Wawancara, 17 Juli 2013).
Sadranan utawa nyadran yakuwi rangkean kegiatan keagamaan sing wis dadi tradisi sing dilakoni nang wulan Syakban (Ruwah) menjelang wulan Ramadhan (Puasa). Tradisi Sadranan wis umum dilakoni masyarakat muslim Asia Tenggara ning kadang beda jeneng karo beda rangkean kegiatane. Masyarakat Jawa, termasuk juga masyarakat Banyumasan ngelakoni tradisi kiye sebagai penghormatan maring arwah leluhur, kerabat/sedulur. Jaman gemiyen acara sadranan dilakoni kanggo pemujaan maring leluhur uga njaluk maring arwah leluhur, sebab dipercaya nek arwah leluhur sing wis meninggal kuwe jane esih urip bareng nang dunia kiye. Upacara sadranan jaman gemiyen nganggo ubarampe sing isine sesajen panganan-panganan sing ora enak dipangan contone: daging mentah, getih ayam, kluwak. Bar Agama Islam melebu, para Wali ngerobah upacara sadranan kiye kanthi cara alus ben pada karo ajaran Islam. Pemujaan karo permohonan maring leluhur dirobah dadi dhonga maring Gusti Allah. Sesajen sing ora enak dipangan diganti dadi sajian panganan sing enak. Upacara sing gemiyen dianakna nang kuburan terus dipindah nang Masjid utawaMushalla/Langgar uga bisa nang omah kerabat sesepuh/pinisepuh (http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Sadranan).
Nyadran merupakan istilah dari tradisi kebudayaan yang berada di tanah Jawa. Nyadran identik dengan upacara kematian, slametan yang ditujukan kepada leluhur. Khasanah kekayaan tradisi yang dimiliki oleh orang Jawa memang bersumber dari warisan leluhurnya, dan dipercayai akan membawa nilai-nilai makna tersendiri bagi yang melaksanakan tradisi tersebut. Seiring Islam merajai tanah Jawa terjadilah akulturasi antara nilai-nilai Islam dengan

Saturday, 8 April 2017

TRADISI ULUR-ULUR TLAGA MBURET TULUNGAGUNG

Oleh : Mahapatih Geal Geol
Di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungangung, yakni di dukuh Buret terdapat bekas peninggalan sejarah yang berupa telaga. Telaga tersebut dimanfaatkan oleh warga sejumlah 4 desa, yauitu desa Sawo, desa Gedangan, desa Gamping, dan desa Ngentrong untuk pengairan 4 desa tersebut. Telaga tersebut berupa sumur dengan garis tengah kurang lebih 75 meter dan di sebut telaga Buret.
Penduduk dari 4 desa tersebut sangat kental mempercayai nilai-nilai magis telaga tersebut. Menurut kepercayaan, yang menguasai (mbau reksa) di telaga Buret adalah Mbah Jigan Jaya. Oleh karena itu, setiap tahunnya pada hari Jum’at legi bulan Sela(penanggalan jawa) diadakan ritual Ulur-ulur di telaga Buret. Ritual Ulur-ulur yang diadakan berupa upacara sesaji atau upacara pepetri. Oleh masyarakat setempat ritual Ulur-ulur telah menjadi adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang mereka. Tujuan diadakannya upacara Ulur-ulur tersebut untuk menghormati para leluhur, yang mendapat kemurahan dari tuhan berupa sumber air, dalam istilah jawa ”CIKAL BAKAL”. Menurut kepercayaan msyarakat setempat apabila tidak diadakan upaca Ulur-ulur di telaga Buret maka masyarakat akan memperoleh kutukan.
Menurut kepercayaan warga setempat, sejarah adanya upacara pepetri atau upacara sesaji di awali dari kejadian yang menimpa penduduk, secara mendadak terkena musibah besar. Banyak warga yang sakit, banyak penyakit yang mematikan. Orang-orang yang sakit tersebut kemudian mendadak meninggal, istilah jawa mengatakan ”pagepluk meganturan”. Pada situasi yang kritis tersebut para punggawa pemerintahan (orang-orang pemerintahan) merasa sangat prihatin melihat kejadian itu. Dan mereka segera bersemedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar wilayahnya terbebas dari kutukan itu. Dalam semedinya mendapat petunjuk bahwa yang bisa memulihkan keadaan dan bahkan mampu membuat keadaan wilayahnya menjadi lebih baik adalah dengan mengadakan upacara pepetri atau upacara sesaji ruwatan dan tayuban di telaga Buret.
Ritual Ulur-ulur dimulai dengan tayuban(sejenis nyanyia-nyanyian tradisional). Tayuban dimulai dengan membunyikan gending onang-onang. Gending onang-onang tersebut dipercaya merupakan kegemaran Mbah Jigang Jaya, yakni penghuni telaga Buret. Menurut kepercayaan masyarakat pada saat gending onang-onang di bunyikan yang menari saat itu adalah ”roh” dari Mbah Jigang Jaya, biasanya dibarengi dengan adanya angin bertiup kencang, selanjutnya diteruskan dengan gending-gending lainnya. Selanjutanya adalah memandikan arca Dewi Sri Sedono dan tabur bungan di telaga Buret.
Dalam upacara Ulur-ulur harus disediakan beberapa sesaji, adapun sesaji tersebut adalah sebagai berikut:
Nasi kebule(sega gurih) sekul suci ulam sari, ambeng mule, buceng robyong, buceng kuat, jenang sengkala. Bermacam-macam duadah(jadah)waran, jadah putih, jadah merah, jadah kuning, jadah hitam, wajik, dodol ketan, ketan kinco, bermacam-macam kue sembilan warna.,yaitu: umbi-umbian. Masing-masing warga desa membawa kue yang berbeda warnanya.
Pisang raja, cokbakal, badek, candu, kemenyan, minyak wangi, bunga telon, mori, topi janur, tikar, gantal, gula gimbal,dan kelapa tanpa sabut. Semua dimasukkan kedalam bokor kecuali kendi, tikar, dan topi janur. Semuanya kemudian di larung di telaga Buret.
Telaga Buret teletak di kawasan seluas 37 Ha (Dinas Lingkungan hidup), dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat yang keramat. Menurut kepercayaan masyarakat siapapun yang mengusik wilyah tersebut, misalnya mengambil ikannya, menebang pohon di wilayah tersebut maka akan memperoleh kutukan dari penunggu wilayah tersebut.

Saturday, 25 February 2017

Asal Usul Dusun Karang Tengah


Konon pada jaman dahulu kala ada cerita bahwa ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih/melakukan hubungan suami istri di tempat yang dianggap sacral oleh masyarakat pada waktu itu. Tempat tersebut meruakan makam dari salah satu sesepuh yang mempunyai peran penting dalam babad tanah desa pulosari. Saat melakukan hubungan badan, ternyata keduanya “gancet” tidak bisa terlepa. Untuk melepaskan harus ada yang dikorbankan salah satu. Maka dibunuhlah salah satu dari kedua pasangan tersebut. Kejadian ini merupakan yang pertama saat itu, penyebab utamanya adalah “barang tengah” yang menyebabkan mereka gancet dan harus dibunuh salah satu. Maka sesepuh jaman itu menyebutnya dusun Karang Tengah.

Sumber: Sejarah Singkat Babad Desa Pulosari, 2015

Monday, 20 February 2017

Reog Mini Cahaya Budaya di Kediri Town Square

Penulis: Ebrin

Jika pada umumnya reyog Ponorogo dimainkan oleh orang dewasa, mahasiswa, SMA ataupun smp, kali ini kami Cahaya Budaya mencoba membuat hal yang baru untuk kami, yaitu dengan membuat tarian reyog ponorogo yang dimainkan oleh anak kelas SD dan TK. Bahkan yang memainkan dadak merak yang dikenal orang sebagai topeng raksasa juga kami pilih yang kecil pastinya. Sekilas terlihat agak sulit jika melatih anak seumuran SD dan TK karena masih semaunya sendiri, namun kami tetap bersabar dan berusaha agar mereka bisa menari, minimal gerak.


Pasca pentas pose dulu



Penulis dan Bujangganong

Setelah berjalan hampir dua bulan proses akhirnya tarian reyog Ponorogo mini ini selesai membuat rangkaian tarinya. Pada minggu 19 februari 2017 Reyog Cahaya Budaya mini diundang Bank Jatim Syariah cabang Kediri untuk memeriahkan acaranya di Ketos. Sudah kedua kalinya kami diundang oleh Bank Jatim Syariah Kediri untuk pentas disana. Alhamdulilah semoga saja cocok.
Pentas dimulai, penonton sangat antusias menyaksikan pementasan kami. Bahkan ada yang berebut mengabadikan momen ini lewat ponsel masing masing. Saya sebenarnya juga kaget ketika melihat kearah penonton, wah gak nyangka jika semua yang menyaksikan bakal tertawa dan seakan terbius oleh penampilan anak kecil yang menari dengan lincahnya terlebih para bujangganongnya. Padahal kami gak berharap jika pementasan kali bakal meriah sampai sejauh itu. Antusias penonton yang demikian mengingatkan saya bahwa setiap individu, kelompok memang memiliki penggemar fanatik tersendiri. Semisal contoh gugun blues shalter, dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa grub band ini jelas menganut aliran blues, bukan aliran keras loh. Grub yang sering dipanggil oleh fansnya GBS ini mungkin terlalu asing ditelinga masyarakat indonesia pada umumnya. Paling saking asingnya gugun blues shalter masih kalah tenar dengan trio macan atau goyang itiknya zaskia. Namun siapa sangka bahwa GBS sendiri memiliki banyak fans yang mayoritas bukan warga indonesia GBS memiliki fans fanatik di Eropa dan Amerika serikat. Setiap kali GBS tampil disana para pecinta blues dan fansnya sudah menunggu datang untuk melihat performnya.
Contoh lagi, grub band asal bandung yaitu mocca. Band ini adalah salah satu band indie dari banyak grub yang ada di Nusantara. Namun siapa bilang mocca ini nggak kondang ? Memang mocca di Indonesia gak banyak memiliki banyak penggemar, namun grub yang satu ini justru berkiprah dan mendapat ruang apresiasi di mancanegara. Seperti Jepang, Singapura hingga Swedia. Saya sebenarnya juga bingung mengapa kedua grub band tersebut malah banyak diapresiasi dinegeri orang namun dinegaranya sendiri kurang.
Hal demikian juga saya rasakan ketika dirumah bersama grup. Kebetulan beberapa anak muda disekitar rumah saya mempunyai bakat dan talenta dikesenian, gak jago sih tapi dalam proses menuju itu. Hingga suatu saat mereka membuat sebuah paguyuban seni, diantaranya Reyog Ponorogo yang berdiri pada tahun 2014 lalu. Alhamdulilah hingga sekarang masih berjalan dengan baik dan beberapa anak muda yang dulunya tidak memiliki kegiatan dirumah setelah mencoba bergabung dengan kami ia memiliki banyak kegiatan. Bahkan yang dulunya bukan penari namun sekarang bisa menghibur dan tampil yang ditonton banyak orang.
 Kelompok kami juga pernah bermain diluar kota bahkan luar pulau seperti bali. Seakan ruang apresiasi itu kurang berpihak kepada kami. Apa mungkin sudah bosan ya ? Padahal yang dibutuhkan seorang atau kelompok yang masih belajar seperti kami ini paling utama adalah tempat dan ruang apresiasi. Jadi jika sebuah gerombolan atau kelompok tersebut kurang mendapat apresiasi ditempat asalnya seiring berjalannya waktu mereka juga akan meninggalkan tempat tersebut dan mencari ruang apresiasi untuk karyanya. Kita ambil saja contoh. Ini ngomong soal cinta. Saya yakin bahwa diantara kalian pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kan ? Misal, ketika sedang jatuh dengan seorang cewek apa yang dilakukan untuk cewek itu tersebut ? Pasti kalian ingin memberikan kasih sayang dan perhatian yang terbaik kepadanya, dengan tujuan agar si cewek juga tertarik kepadamu. namun bagaimana bila usahamu itu selalu diacuhkan dan kurang diperhatikan, sakit enggak ? padahal yang dibutuhkan si cowok hanyalah perhatian balik dari si cewek. Gak harus mau jadi pacarnya kok. Masih tetap menunggu kah kalian ? Atau pergi mencari cewek lain ?. Itu semisal hehhe jangan baper ya..


on Stage



on Stage


on Stage


Pembarong junior


Penari Bujangganong




Klono Sewandono


Kembali lagi ke bahasan kita tentang apresiasi. Jadi hal tersebut mirip dengan apa yang kami rasakan. Memang kami melakukan semua hal tersebut dengan senang hati. Dan ini yang menjadi salah satu kami bisa senang, ternyata secara gak sadar banyak orang diluar sana sudah mengapresiasi apa yang telah kami lakukan. Pada waktu itu saya sedang nongkrong di warkop tiba-tiba saja saya ditanya oleh seseorang yang belum saya kenal. Kapan reyognya main mas? Penonton fanatik sebenarnya sudah mulai terbentuk terbukti di beberapa pementasan kami bertemu dengan orang-orang yang hampir pasti mengikuti kami selama masih dalam jangkuan.


Perjuangan yang kami lakukan seolah tidak membuat dukungan dari pemerintah berpihak pada kami. Kami mencoba mengadakan pementasan rutin di balaidesa selain untuk mengisi waktu luang juga untuk memberikan tempat bagi teman-teman yang lain untuk menunjukkna kemampunyanya. Mbok bagaimanapun cinta kami kepada tanah kelahiran ini memang benar benar tulus dari dalam hati, jadi tolong jangan disiasiakan kesempatan yang memang berharga ini. Dan inilah harapan kami. kan eman kalau suatu saat tunas-tunas muda kita di "openi" pihak lain. 

Wednesday, 8 February 2017

Raja Kera di Gunung Budheg Tulungagung

Ketika anda ke Gunung Budheg jika beruntung bisa melihat matahari terbit yang bagus, dan juga disaat yang sama dapat melihat awan yang indah. Memang puncak Gunung  Budheg menawarkan dua hal tersebut, namum yang perlu di sadari, namanya bergantung dengan alam, kita tidak bisa memaksa harus ketemu kedua hal itu saat kita mendaki.
Saya pernah melihat tempat yang mirip gunung budheg, mereka memberi nama B29 Lumajang. Sekali lagi ketika kita beruntung kita juga bisa melihat hal yang sama, apalagi dari puncak B29 kita dapat melihat gunung Bromo dari kejauhan. Bedanya, untuk mencapai puncak B29 kita bisa naik sepeda motor, jika tidak berani di sana juga ada ojek gunung. Namun jika anda menginginkan petualangan dan kenangan yang menarik silahkan jalan kaki. Anda akan bertemu dengan mie kriuk di beberapa titik. Berbeda dengan B29, Gunung Budheg tidak bisa kita capai dengan menggunakan kendaraan bermotor. yup, kita harus jalan kaki. Bila takut tersesat atau merasa kurang pengalaman, tenang disana anda bisa mengajak pemandu dengan tarif yang bisa diobrolkan.
Meski di puncak belum tentu bertemu dengan sunrise dan awan yang bagus, tenang saja disana kita masih bisa bertemu dengan kera-kera liar. Kera disana masih lumayan banyak dan kelihatannya sudah tidak terlalu takut dengan manusia, terbukti ketika salaha satu kawan memberi roti kera tersebut berani mengambil dan seolah sudah biasa makan roti. Saya sendiri kurang tahu seperti apa hierarki kera disana yang jelas ada satu kera yang memiliki tubuh paling besar. Ketika kera ini datang, kera yang lain pada menyingkir, takut mungkin atau memang si besar adalah raja kera di Gunung Budheg.





                                                               raja kera sedang makan roti

                                             Anak buah kera sedang mencoba menangkap roti


Awalnya ada salah satu kera yang mendekati kami, kera itu menggendong anaknya yang masih kecil. Salah satu kawan melemparkan roti di dekatnya, tanpa ragu-ragu kera tersebut langsung mengambil roti dan memakannya. Ketika sudah habis, kawan saya memberinya lagi dan kejadian pun berulang hingga tiba-tiba datanglah si Raja kera, maka langsung menyingkirlah kera-kera yang lain.

Saya mencoba memberi roti langsung tanpa dilempar, ternyata raja kera berani mengambil langsung dari tangan saya. wah, ini tambah menarik, hal yang sama coba diulang oleh kawan saya dan ternyata Raja Kera berani mengambil juga. lama kelamaan Raja kera pergi, mungkin dia Bosan, tahu sendiri kan temen-teman saya membosankan makanya mereka jomblo, duh kok curhat. ketika Raja kera pergi, datang kera-kera yang lain untuk ikut menikmati roti dari kami. wah, enaknya....
Tiba-tiba raja kera kembali, dan kera-kera lainnya bubar, kami hanya bisa tertawa melihat hal tersebut. tanpa bisa memihak atau melakukan sesuatu, namun yang jelas kami belajar bahwa di dunia kera, ketika ada yang memiliki badan paling besar, lainnya harus takut hehe. Namun tentu beda ketika di dunia manusia kan?? atau anda masih menganut hal tesebut??


                                                                     Team dibalik layar


Sunday, 22 January 2017

Telaga Ngambal dan Pemudanya yang Kece Badai

 Oleh: Ebin


Bagi sebagian warga Tulungagung mungkin sudah pernah mendengar telaga Ngambal. Telaga ngambal berada di desa Winong, kecamatan Kalidawir kabupaten Tulungagung. Ini adalah salah satu tempat wisata yang tergolong anyar di Tulungagung.

Kemarin saya dan teman-teman sejenak untuk meluangkan waktu berkunjung ke telaga yang kini sedang manis-manisnya. Tak perlu banyak waktu untuk menuju kesana hanya butuh 30 hingga 40 menit bila kita tempuh dari kota Tulungagung. Sesampai disana bukan langsung menuju ke lokasi wisata namun kami menuju kerumah kakeknya Aditya (pedet) untuk menitipkan kendaraan.
Kami langsung ke telaga untuk menikmati keindahannya. Sambil minum kopi, kami berenam nampaknya kelaparan lalu saya mengalah pergi kesalah satu penjual untuk beli makanan. Sampai diwarung saya berbincang seputar telaga ngambal dengan Ibu pemilik warung, Ternyata beliau baru berjualan disini belum lama sekitar satu bulan. 


Saya dan Maman 

Tanpa anda ketahui, jika dulu telaga ngambal adalah sebuah rawa kecil yang banyak ditumbuhi rerumputan, enceng gondok dan orang pun enggan untuk berkunjung kesana. Namun berkat beberapa pemuda yang peduli dengan alam, dan juga didukung oleh karang taruna desa setempat, saat ini banyak orang berkunjung kesana. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun telaga ngambal menjadi buah bibir dimedia sosial. Waktu yang singkat untuk sebuah pengenalan wisata baru.
Telaga ngambal saat ini mulai berbenah diri dan juga mulai dipenuhi para pedagang. Tak hanya itu, ada beberapa wahana menarik yang mulai bermunculan seperti penyewaan perahu, ayunan dan bahkan tempat untuk berfoto juga ada. Jika anda pengen selfie ditelaga ini anda dikenakan biaya sebesar 2k per orang oleh warga sekitar setempat. Ya mungkin untuk biaya perawatan disana. Bahkan pemuda disana hingga membuat panggung permanen untuk kegiatan pentas kesenian yang rencananya akan diadakan seminggu sekali.
Belum lama ini kok telaga ngambal diresmikan oleh bapak bupati Tulungagung (Syahri mulyo) tepatnya pada tgl 1 Juanuari 2017 kemarin. Bayangkan saja berawal dari beberapa pemuda yang kurang gawean itu telaga ngambal bisa disulap menjadi sebuah trademark Kecamatan Kalidawir bahkan juga Tulungagung sendiri. Waw..keren ya para pemuda tersebut. Semoga saja telaga ngambal bisa lebih baik lagi dan berkembang menjadi wisata penggerak perekonomian desa setempat bahkan juga Kabupaten Tulungagung, "Opo sih rahasiane kok bisa berkembang secepat itu?" Saya juga belum mengamati sejauh itu. Yang jelas disinilah peran pemerintah sebagai pemegang kendali terhadap pengembangan destinasi wisatanya. Seperti hal yang sama pada awal november 2016 lalu desa sebalor kecamatan Bandung juga diresmikan oleh bupati Tulungagung sebagai desa wisata.
Kebetulan waktu itu grub kami (Cahaya Budaya) juga ikut pentas disana. Didesa wisata sebalor juga ada terdapat air terjun yang airnya segar,dingin dan jernih. Awal mulanya desa wisata sebalor juga belum dikenal masyarakat luas. Namun dengan semangat pemuda yang memiliki kesadaran penuh untuk menjaga keutuhan alamnya, kini desa sebalor perlahan mulai dikenal masyarakat.
Saya yakin bahwa dibalik kesuksesan suatu daerah tak pernah lepas dari pemerintah. Mempunyai sekumpulan pemuda yang kompak, solid jika peran pemerintah gagal merangkul dan memberdayakannya maka percumalah kalau kompak dan solid. Saya juga baru sadar bahwa negara kita ini masih banyak tenaga yang bekerja diluar negeri. Karena mungkin saja ini adalah sebagai ketidaknyamanannya mereka berproses didesanya atau daerahnya. Padahal desa seharusnya bisa menjadi kekuatan ekonomi. Agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah penyebab penyebab utama hijrahnya warga tersebut. Namun jika ada kegiatan ekonomi, kegiatan yang sifatnya sebagai pengembangan diri sudah berjalan untuk apa meraka harus jauh-jauh mencarinya?
Bagaiman dengan keadaan karang taruna di daerahmu? Apakah sudah berjalan dengan semestinya? Atau malah karang taruna di daerah hanya sebuah nama tanpa roh? Karena pemudalah yang bisa memberi warna baru, ide cemerlang dan ide liarnya untuk mengembangkan suatu daerah. Teringat kata Bung Karno beri aku 10 pemuda maka akan aku goncang dunia. Dan doaku hari ini. Semoga saja ditempat tinggal kita saat ini menjadi tempat yang lebih maju, nyaman dan baik baik saja. Amiinnn....

Friday, 20 January 2017

Kelas Inspirasi Tulungagung 4 tahun 2016

Info tentang kelas inspirasi saya peroleh dari beranda facebook seorang kawan, kelihatannya menarik. Langsung saja klik dan ternyata tertarik, tanpa banyak berpikir saya ngisi form pendaftaran. Saat itu berpikir profesi saya yang petani sangat tidak menarik dan mungkin tidak diterima untuk menjadi salah satu relawan inspirasi. Hingga tiba sms yang mengatakan bahwa saya terpilih menjadi salah satu relawan.

 SDN 3 Geger

                Ketika sudah terpilih, ada hal yang membuat kepikiran. Menjadi petani? Hal apa yang harus diceritakan agar para siswa tertarik dengan profesi ini. mengingat saat ini sudah terlalu banyak yang gengsi untuk menjadi petani. Salah satu fasil memberi saran agar saya memakai baju tradisi bukan baju formal seperti yang lain. Kebetulan selain sebagai petani saya merupakan salah satu pegiat seni Reog Ponorogo di desa Pulosari Kec Ngunut. Salah satu desa yang berada di timur kota Tulungagung.
Sayangnya saya tidak bisa berkumpul dengan teman-teman saat briefing. Oke, saya Cuma bisa memaksimalkan obrolan lewat whatsapp tanpa pernah bertemu muka. Saat senin pagi saya sudah ditunggu Tria salah satu fasil dan Rudi dokumentator yang kebetulan juga berangkat pagi itu. Perjalanan dimulai, hingga kami tiba di SDN 3 Geger.
SDN 3 Geger berada di kecamatan Sendang, salah satu kecamatan yang berada di Tulungagung bagian barat. Kecamatan ini memiliki keindahan alam yang dapat diandalkan. Mulai dari telaga, taman bunga hingga wisata alam pegunungan yang asri. Tertarik? silahkan datang.
Layaknya orang asing yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untung ada mas Abid yang memecah kebuntuan sambil mengajak ngopi dan memotogi kertas untuk pengenal adik adik siswa, beliau bercerita tentang pengalamannya menjadi salah satu relawan kelas Inspirasi di Blitar. Saat itu saya mulai ada gambaran tentang apa yang harus saya ceritakan. Ditambah dengan arahan dari mas Endrita sang komandan semakin menambah keyakinan untuk memulai acara. Rombongan kami di isi oleh Bunda Tjut yang penulis, Bunda Jumirah yang pengusaha konveksi, Om Abid Analisis keuangan, Om Endrita sang komandan, mbak Ashi dan mbak Tria Fasilitator. Mas Benny dan mas Rudi yang membantu dalam bidang dokumentasi.    

Tim untuk SDN Geger 3

Kelas yang saya isi dimulai dari kelas 3 tanpa banyak halangan saya dapat memberikan gambaran tentang kec Sendang yang menarik untuk dijadikan sebagai tempat bertani. Kebetulan dekat dengan desa mereka terdapat pengusaha bunga potong yang cukup sukses sehingga hal ini semakin memudahkan saya untuk menceritakan tentang pertanian, terutama profesi petani.
Saat istirahat ada reporter tv yang mewancarai saya tentang acara kelas inspirasi ini. salah satu motivasinya adalah agar siswa sd geger 3 tidak malu untuk menjadi petani di kemudian hari. Mengingat saat ini jumlah petani dan lahan pertanian semakin berkurang. Salah satunya dengan menceritakan petani memiliki banyak waktu luang sehingga bisa berkarya di bidang yang lain semisal saya yang terjun di dunia kesenian.
Acara selesai dan ditutup dengan menulis cita-cita di kertas kemudian ditanam di bawah bibit pohon, kami menyebutnya pohon cita. Salah satu fasil memaksa saya untuk mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2 untuk menanam pohon cita-cita. Timbul masalah baru lubang yang dibuat berada di bawah rimbunan pohon bambu. Ketika saya protes malah tetap di paksa oleh Ashi salah satu fasil. Setahu saya jarang sekali ada pohon yang mampu bertahan hidup di bawah pohon bambu, karena kuatnya akar yang menyebar sehingga harus berebut nutrisi. Oke, saya mengalah dan hanya bisa berdoa semoga saya salah hehe.

 in action

Tidak seperti teman-teman yang lain saya tidak bisa mengikuti sesi refleksi ada kegiatan lain yang sudah menunggu. Begitu acara selesai, saya langsung pulang. Ternyata mas Abid salah satu relawan juga harus pulang karena harus tiba di stasiun jam 16.00 untuk pulang ke Sidoarjo. Kami berboncengan hingga stasiun tanpa sempat ngopi, saya langsung pulang ke Ngunut untuk melanjutkan kegiatan yang lain.
Sampai jumpa pada acara selanjutnya. Semoga kelas inspirasi ini akan tetap ada di tahun selajutnya. Aamiin.